“Nis, si Danu gateng yah?”, Tanya vera sambil senyum-senyum.
“ Iyah. Tapi kayaknya dia suka ama lo Nis”, samber Linda
“ huh, M…Masa? Te..e..ru..s gi..mana dong?”, tanyaku
“Hahahaha” mereka berdua tertawa dalam kelas 3-A yang udah mulai Full.
Eh, Aneh, kelas udah mulai full tapi kok bangku disampingku belum terisi. Kira-kira siapa yah yang akan duduk disebelahku. Lamunanku pun melayang ke wajah Danu yang memang sangat ganteng.
“Maaf, Permisi… Boleh saya duduk disini. Soalnya bangku yang lain semuanya sudah terisi”
“Boleh, kok” jawabku. Waah ternyata anak berantakan yang tadi, aduh udah sekelas, sebangku lagi, hari-hariku pasti kedepannya kacau.
“Thanks”, balasnya sambil menaruh tas punggungnya. Tas punggungnya sangat besar. “Anak aneh”,kataku dalam hati.
“Maaf yah soal yang tadi, saya beneran nggak sengaja”
“Udah nggak apa-apa kok”
“Ouh, iya kalian berdua… maaf soal yang tadi, nggak nyangka kita sekelas”, sambil menunjuk ke arah Linda dan Vera
“Nggak apa-apa kok, makanya lain kali hati-hati aja” kata linda
“Nama gw Veronica Mutia, panggil aja vera, yang manis sebelah kamu namanya Nisha yuri lestari panggil aja nisha” celotehnya.
“kalo gw Lindasari , panggil aja Linda”
“ salam kenal, nama saya Fadlan Robert Trianto”
“ wah nama lo keren banget Robert. Haha” Cerocos Vera
“Panggilanku Fadlan bukan Robert”, koreksinya sambil tersenyum.
“ Fad, baju lo kok kotor?”, kata Linda
Trieeeeeenggggg.. tiba-tiba bel masuk pun berbunyi. Pelajaran pertama yang masuk adalah Matematikanya Pak Marzuki yang terkenal tegas serta sangat kejam. Selain warna kulitnya yang hitam badannya yang Besar mirip ade ray dan Kumis tebal menambah kesan kejamnya. Tak seorang murid pun berani tak memperhatikan dan tak mencatat jika disuruh.
“tolong Catat halaman 5-35, saya keluar sebentar. Jadi jangan ada yang keluar dari kelas ini sampai saya kembali”, kata pak Marzuki
“Aduh, Pak Marzuki tega banget kasih 30 halaman”, kata Linda.
Huh siapa sih yang mau nyatat sebanyak 30 halaman.
“Gila nih guru, kirain kita ngetik pake computer kali yah”, ngocehku dalam hati sambil mulai mencatat.
“Haduh masih 28 halaman lagi”, kataku. Kuperhatikan Sekelilingku, semua orang ternyata sedang mencatat dengan serius, tapi “huh”. Si Fadlan malah tidur...
(bersambung.....)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar